Cerpen Finalis (10 Besar) CERMIN INDOSIAR 2008 oleh Fatimah, Imazahra 04.18

Fatimah, Imazahra
Episode Ibunda guru Amiroh

Aku berasal dari pulau Kalimantan, yang SD nya saja sekarang telah rata dengan tanah. Namun aku punya mimpi ingin sekolah setinggi-tingginya! Aku menggenggam bara asa walau duka lara silih berganti menyapa. Alasan yang sangat klasik tapi nyata, kemiskinan membelitku seperti remukan ular kobra! Kepapaan dan tanggung jawabku sebagai anak pertama juga pernah membuatku berhenti ingin menaklukkan dunia!

Tertatih-tatih aku lawan kejamnya dunia kapitalis. Aku pastikan diri, kemiskinan tidak akan membuatku berhenti sekolah. Meski Abah menentang dan memintaku pulang. Saat itu aku duduk di bangku kelas tiga tsanawiyah di jantung Jogja. Sepucuk surat jatuh ke pangkuanku,

“Nak, pulanglah…! lulus tsanawiyah sudah cukup untukmu. Saat ini. kebangkrutan mendera Abah, menghabiskan segalanya, seperti kobaran api yang membakar rumput kering di musim kemarau. Abah sudah tidak punya apa-apa lagi. Bahkan video tua barang peninggalan dari Saudi sudah dijual untuk mengganjal perut. Alangkah egois jika kamu memilih bertahan di Jogja, sementara ading-adingmu di rumah membanting tulang membantu orang tua. Kalau kamu di sana Abah tidak tahu kamu bisa makan atau tidak, tapi kalau kamu di sini, makan tidak makan, kita hidup bersama.” Intinya, Abah menginginkanku pulang ke Banjarmasin. Berkumpul dengan keluarga berbagi derita miskin bersama-sama.

Waktu itu darah mudaku menggelegak. Aku memilih bertahan. Mengabaikan permintaan Abah. Walau aku belum tahu, kepada siapa aku bisa minta tolong?

Ketika aku menghadap ibu guru BP yang sholihah, Ibu Amiroh, pertahananku jebol. Aku tersedu-sedu di sudut ruang BP, menangis di pangkuan beliau atas pahitnya kefakiran yang ingin merenggutku dari bangku sekolah. Sampai kemudian beliau menjanjikan sesuatu,

“Nak, kalau kamu berhasil meraih ranking 1 paralel (nilai tertinggi di antara peraih juara 1 dari kelas 1 tsanawiyah s/d kelas 3 Aliyah), ibu akan usahakan agar kamu diberi beasiswa bebas SPP tahun ajaran selanjutnya. Walau saat ini kamu baru berhasil meraih rangking 3 dan 2 di semester-semester sebelumnya, ibu yakin kamu bisa!” Sambil mengucapkan kata-kata penyemangat itu, beliau menatap mataku lekat!

Masih kuingat, saat itu aku langsung menggenggam tangan beliau kuat-kuat. Seakan-akan aku tegaskan pada beliau, kemiskinan ini tidak akan membuatku berhenti! Kemiskinan ini malah akan menjadi bara abadi, bahwa aku bisa ‘mengalahkan’nya dengan pendidikan setinggi-tingginya!

Sejak itu, siang malam aku belajar seperti orang gila. Aku ‘kesetanan’ ingin membuktikan kalau aku juga bisa menjadi juara 1 paralel! Meski dalam sejarah pesantrenku selama belasan tahun, belum pernah ada juara 1 paralel dari pulau Kalimantan.

Akhir tahun ajaran tiba. Setelah sekian pengumuman dibacakan, tiba-tiba namaku dipanggil ke atas panggung di acara anugerah juara-juara kelas yang disaksikan oleh ribuan santri dari seluruh penjuru tanah air. Saat itu kakiku seperti tidak menapak tanah,

“Ananda Fatimah binti Chairi, dari kelas III B meraih juara 1 kelas IIIB daaan… Juara 1 Paralel. Kepada Ananda, kami persilahkan ke depan menerima penghargaan!” Suara bariton Pak Rusydi hampir-hampir tenggelam oleh sorak sorai teman-teman dari daerah Kalimantan. Semua mengelu-elukan aku. Mataku pun basah. Beliau berhasil menghidupkan kembali harapanku sekaligus menyelamatkanku dari putus sekolah.
Belakangan aku baru tahu, bahwa beliaulah yang mengusulkan pembebasan SPP selama satu tahun penuh untukku di hadapan sidang dewan guru dan pembina Madrasah. Beliau ternyata tidak hanya menyemangati saja, tapi sungguh-sungguh membela masa depanku.
***
Episode Teh Merlyna Lim
Setiap tahun aku tepati janji pada motivatorku, Ibu guru Amiroh. Aku nikmati masa-masa sekolah berasrama penuh prestasi, bahkan aku menjadi ketua OSIS.. Biarpun kemiskinan belum menjauh, Ibu Amiroh telah membukakan pintu untukku: Berprestasi dalam pendidikan adalah senjata ampuh melawan cengkeraman kemiskinan!

Lulus dari Madr. Mu’allimaat, aku bulat hati melanjutkan ke bangku kuliah, walau tanpa dukungan finansial memadai dari orang tua. Tersendat-sendat kujalani kuliah.

Di saat temanku menikmati kiriman bulanan dari orang tua mereka, aku berjibaku. Mulai menjadi guru TK sampai berdagang kue dan batik kulakoni asal halal.

Sampai pada sebuah titik, aku kehabisan energi! Aku bahkan terdesak ‘mengemis’ belas kasihan temanku karena waktu itu aku kelaparan dan sudah dua hari tidak makan.

Pada sahabatku aku mengeluh, “Rasanya belitan kemiskinan ini menakdirkanku untuk tidak berhasil meraih gelar sarjana. Aku seperti pungguk merindukan bulan!”

Aku mengalami musibah dan kekecewaan beruntun di tahun 2000. Aku mempertanyakan keadilan Tuhan. Aku lelah dan ingin menyerah. Kalah. Pulang ke Banjarmasin meski tidak membawa gelar sarjana adalah pilihan paling realistis saat itu. Apalagi banyak lulusan sarjana disekitarku malah nganggur!

Hingga suatu ketika, aku temukan tulisan-tulisan moderator yang menggawangi milis Beasiswa yang ‘menampar’ jiwaku! Seri tulisannya singkat tapi menyentuh relung-relung kesadaran. Mengingatkan janjiku pada Ibunda guru Amiroh: kemiskinan harus dilawan dengan prestasi! Membangunkanku kembali pada mimpi terbesarku. Meraih pendidikan setinggi-tingginya, sebagai salah satu kunci menghentikan kemiskinan yang menderaku.

Di milis teh Merlyna membagikan ilmunya yang sangat berharga. Tips dan triks dalam melamar beasiswa sekaligus memenangkannya. Ribuan jam kuhabiskan mengubek-ubek isi milis, ketika aku baru selesai Kuliah Kerja Nyata di Gunung Kidul.

Nama Merlyna Lim sangat tersohor di dunia maya karena ia salah satu moderator milis yang cepat tanggap atas pertanyaan dan kesulitan membernya. Hebatnya lagi, itu semua dilakukannya ditengah-tengah jam kuliah dan penelitiannya yang padat antara Belanda, Hawaii dan Bandung!

Dari milis, aku beranjak mencari tahu tentang dirinya dengan meng-google namanya. Ratusan link muncul menunjukkan siapa dirinya. Luar biasa, Teh Merlyna adalah achiever sejati! Dia telah meraih aneka penghargaan nasional dan internasional dan saat itu dia sedang menempuh program Doktoral di Twente University, Belanda dengan beasiswa internasional yang sangat prestisius. Academic papernya juga telah dipresentasikan di puluhan negara. Aku terbius!

Semenjak itu boleh dibilang aku terobsesi sekaligus ‘iri’ padanya. Jika dia bisa menempuh pendidikan setinggi itu gratis dengan beasiswa, kenapa aku tidak bisa? Kehebatannya di bidang akademik juga menyuntikkan bara: aku harus selesaikan pendidikan S1 ku, sesulit dan seberat apapun tantangan yang kuhadapi. Aku tidak akan bisa mendapatkan beasiswa S2 kalau aku belum menyelesaikan S1 ku!

Terminal Leuwi Panjang, Bandung
Hari itu aku berjanji untuk bertemu dengan Merlyna Lim! Setelah sekian lama aku hanyalah muridnya di dunia maya. Di email kuceritakan, aku mengagumi prestasinya yang mendunia di websitenya: http://www.merlyna.org/bio. Aku ingin menyedot langsung energi positif darinya.
Jelang keberangkatannya kembali ke Belanda, disela-sela kesibukannya mengurus penelitian doktoralnya, dia sisihkan waktu untukku, yang bukan siapa-siapa.

Sekitar setengah jam aku menunggu seperti anak ayam yang hilang karena gak tau Bandung. Akhirnya dari jauh kulihat seorang perempuan keluar dari mobil merah. Putih, cantik, menarik, sederhana dan ramah!

Sambil bersalaman, teteh menarik tanganku, “Ayo Ima, langsung naik mobil, kita cari café yang enak.” Aku tidak tahu mau dibawa kemana, tapi yang pasti, aku langsung menyukainya!

Kami tiba di café Atmosphere yang nyaman sekali. Pemandangan yang terhampar disekeliling bukan main indahnya. Angin Bandung sepoi-sepoi perlahan mengeringkan keringatku.

Gemetar kubuka obrolan sambil menyalakan tape recorder pinjaman. Dia bercerita tentang keluarganya, hobbynya, kenangan masa kecilnya yang lucu dan penuh semangat. ITB dan paduan suara kampusnya, penelitian-penelitiannya dan cintanya pada ilmu pengetahuan. Juga kisah travelingnya yang seru! Meski sudah membaca blog travelingnya, http://merlynatravel.blogspot.com, tetap saja mendengarkan langsung itu asik! Dia bahkan membawakan foto backpackingnya keliling dunia, yang sudah menjangkau hampir 30 negara lebih!

Dia salah satu perempuan cerdas tapi tidak sombong yang pernah kukenal. Dia pompakan jutaan gigabyte semangat untukku! Mulai siang itu, dia ‘kudaulat’ menjadi inspiratorku, selain Ibunda guru Amiroh!

Dia balik bertanya. Dia ingin tahu hidupku. Malu-malu kuceritakan siapa aku dan mimpi-mimpiku yang tertatih-tatih kuraih. Dia besarkan hatiku, “Coba terus, Dik, kamu tidak akan pernah tahu batas kemampuanmu kalau kamu sendiri tidak mencobanya, kita moderator di milis Beasiswa, siap membantu.”

Dia Mengajariku Membagi Ilmu
Dia membuktikannya! Ketika berulang kali aku mengontak dia untuk urusan applikasi beasiswa S2 ku ke berbagai lembaga, berulang-ulang juga emailnya datang memberikan masukan-masukan yang sangat berharga. Bahkan ketika dia sedang sibuk dan di ujung dunia paling jauh sekalipun!

Di penghujung tahun 2003, aku mendapatkan kepastian: memperoleh beasiswa S2 ke Inggris dari Ford Foundation. Pendidikan tak hanya memerdekakanku dari kemiskinan harta dan ilmu, tapi juga mengantarkanku ke berbagai negara, seperti inspiratorku!

Dia mengajariku satu hal yang sangat penting, kita tidak akan pernah kekurangan sekali pun kita membagi yang kita punyai. Sebaliknya kita malah akan semakin kaya karena memberi. Seperti pesan Nabi Mulia, “Al Yadul ‘ulya khairun minal yadis sufla.” Tangan di atas (jauh lebih) mulia dibanding tangan yang di bawah.”

Cerpen Finalis (10 Besar) CERMIN INDOSIAR 2008 oleh Rosalia Raesita Rabu 03.58

Rosalia Raesita Rabu

Perempuan ini menyimpan banyak kepahitan di dalam hatinya. Terlahir sebagai anak pertama dari empat bersaudara, menjadikan perempuan ini kuat memikul semua beban yang dipercayakan Papi dan Maminya, agar adik-adiknya bisa bersekolah hingga urusan menikahkan adik-adiknya. Nama perempuan ini Josephin. Umurnya sudah berkepala tiga.

“Adikku akan menikah minggu depan. Satu lagi tugas berat menanti”, ujar Josephin padaku. Ditariknya nafas dalam-dalam.

Aku memandangnya, tak mengerti dengan ucapannya. “Memangnya tugas berat apa, Kak?”
”Biasalah, utang sana sini untuk keperluan pesta”, jawab Josephin.

”Aku harus menyiapkan banyak hal dari urusan adat, gaun pengantin, make-up, gedung resepsi, acara, hingga menu pestanya,” kata Josephin. Terbayang rumitnya mengurusi itu semua. Aku menganggukkan kepala membenarkan alasannya menyebut pesta ini sebagai suatu tugas berat.

”Kalau butuh bantuan, hubungi saja aku”, kataku sambil tersenyum. Josephin memandangku dan tertawa.

Berbicara tentang Josephin seakan tak ada habisnya. Josephin merupakan pegawai senior di kantor kami. Pertama kali berkenalan dengannya membuatku berpikir hidupnya nyaris sempurna. Wajahnya yang manis, dengan pekerjaan bagus sebagai acoounting di kantor kami, membuat Josephin tidak hanya beruntung dalam karirnya.

Seorang anak laki-laki tampan yang berumur 3 tahun dengan kulit putih bersih dan bulu mata lentik membuat semua terkagum-kagum begitu memandang Gerald, anak semata wayangnya itu. Dan tentang suaminya? Begitu sempurna. Reynold nama lelaki itu, bertubuh atletis dengan postur tubuh tinggi dan wajah tampan. Keluarga yang sempurna.
Namun bannyak hal yang tidak kuketahui tentang keluarga Josephin. Dari isu yang berhembus, ternyata perempuan mungil ini sering mendapat perlakuan kasar dari suaminya. Dia menyimpan rapat-rapat hal ini dari aku. Namun tanteku yang kebetulan bertetangga dengannya sering bercerita tentang ini. Hingga di suatu siang, aku terkejut ketika melihatnya baru tiba di kantor hampir pukul 12 siang. Namun bukan waktu terlambat masuk kantor yang membuatku terperangah, tapi pada wajahnya. Tepatnya pada lebam di wajahnya.

”Kak, ada apa Kak?” aku mulai bertanya ketika Josephin menangis tersedu-sedu di meja kerjanya. Dia menatapku dan kembali menangis. Aku membiarkannya menangis.
”Ada apa Kak?” tanyaku lagi.
”Semalam Reynold memukulku. Dia bahkan hampir membunuhku”.

Aku terkejut. Bayangan tentang sebuah keluarga sempurna kontan runtuh dari pandanganku. Keduanya semalam bertengkar hebat. Rupanya sang suami takut Josephin yang menjadi event organizer akan bertemu dengan mantan pacarnya yang kebetulan juga diundang ke pesta itu. Josephin awalnya tak pernah menyangka hal ini terjadi.

Kupandangi sekujur tubuh Josephin. Bola mata kanannya berwarna merah darah. Kaki kanannya penuh dengan bekas lebam berwarna hitam kebiru-biruan. Aku terperangah ketika dia menggulung lengan kanan bajunya dan menunjukkan sesuatu padaku. Sebuah luka memar menganga.

Dari cerita Josephin aku jadi tahu penyebab luka dan memar di sekujur tubuhnya itu. Beberapa hari yang lalu suaminya mendapat kabar bahwa David, mantan pacar Josephin juga diundang ke pesta itu. David merupakan teman kerja adik Josephin.. Namun Reynold beranggapan lain. Dia curiga Josephin sengaja mengundang David untuk bisa bertemu lagi dengan mantan pacarnya itu. Semalam hal itu ditanyakan pada Josephin. Josephin tersenyum dan menjelaskan pada Reynold bahwa David memang diundang tapi oleh adik Josephin, bukan oleh dirinya.
Ah, ternyata hal ini membuat Reynold naik pitam. Kaki kanannya secepat kilat menendang perut perempuan ini hingga terjatuh. Dengan segera telapak kakinya menginjak lengan kanan Josephin berulang kali. Josephin bereteriak keras menahan sakit. Di saat itu, ibunda Reynold yang rumahnya bersebelahan dengan mereka mendatangi Josephin. Melihat menantunya diperlakukan seperti itu, orang tua itu mencoba menarik anaknya menjauhi Josephin.

Reynold tak menghiraukan ibunya. Dia berlari ke arah dapur dan mengambil sebilah pisau dapur. Baru saja pisau itu akan diayunkan ke tubuh Josephin, tiba-tiba pisau itu terlepas dari gagangnya. Mungkin ini campur tangan Tuhan, yang tak ingin agar kisah hidup Josephin berakhir seperti ini. Namun Reynold semakin kesetanan. Tangan kanannya yang kuat itu dikepalkan dan dihantamkan pada bola mata kanan isterinya.

Di saat itu tetangga mulai berdatangan. Josephin dilarikan ke rumah sakit sedangkan Reynold diamankan di rumah tetangganya. Gerald yang melihat perkelahian orang tuanya itu menangis sekuat-kuatnya. Semuanya menjadi mimpi buruk bagi Josephin, dan tentunya juga bagi Gerald.

Aku terdiam memandangi Josephin. Kuingat benar beberapa hari lalu aku dan dia telah membeli sebuah gaun cantik berwarna biru berlengan pendek untuk dikenakan Josephin pada pernikahan adiknya. Namun melihat Josephin dengan kondisi sepert ini membuatnya nyaris cacat dengan gaun barunya. Aku memandangnya lagi.

Tak kuasa kubayangkan tubuh mungil isterinya ini dihantam dengan kekuatan penuh lelaki atletis yang setiap hari kerjannya hanya fitness. Tapi tunggu dulu.Tiba-tiba aku teringat satu hal.
”Kak Reynold bekerja dimana Kak? Kita laporkan masalah ini pada atasannya”, kataku.
”Dia pengangguran”, jawab Josephin sambil tertunduk.

Aku terdiam. Pantas saja. Kekerasan dipakai sebagai senjata untuk menaklukkan isterinya, membuat perempuan ini tidak berdaya. Rasa cemburu yang berlebihan membuat Reynold tak segan-segan memperlakukan isterinya dengan kejam. Laki-laki yang tidak bekerja seringkali merasa takut dikuasai oleh isterinya yang bekerja sehingga kekerasan dianggap cara lumrah untuk menekan sang isteri.

”Aku tak pernah peduli jika dia tak punya pekerjaan tetap. Apapun pekerjannya aku selalu menghormatinya. Walau sekarang dia pengangguran toh aku selalu menghargainya sebagai seorang suami. Namun dia sama sekali tak pernah menyadari hal ini. Penampilannya juga tak mau kalah dengan laki-laki lain yang punya pekerjaan. Pakaian, sepatu, perhiasan hingga suplemen termahal selalu aku berikan padanya. Aku mencintainya tapi tak pernah jadi isteri yang baik di matanya”, Josephin menangis lagi.

”Mama, mama....”, tanpa kami sadari, Gerald, anak Josephin sudah berada didekat kami. Rupanya dia diantar pembantu.
”Mama menangis?” tanya Gerald sambil menghapus air mata ibunya dengan tangannya yang mungil. ”Kalau Gerald sudah besar, Gerald bunuh Papa nanti. Mama diam yah?” hibur anak kecil itu.

Aku memandanganya. Kekerasan dalam rumah tangga menjadi momok yang menakutkan. Namun di tempat kami orang sering melihatnya sebagai sebuah urusan rumah tangga biasa, sebuah masalah privat yang tidak boleh dicampuri. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Seminggu kemudian ketika Josephin sedang sibuk dengan urusan pernikahan adiknya, aku pun sedang sibuk dengan sebuah urusan lain. Kisah Josephin menghantarkan aku ke Solidaritas Perempuan Flores atau SPF yang konsen menangani masalah kekerasan terhadap perempuan. Kasus kekerasan dalam rumah tangga merupakan yang tertinggi ditangani oleh lembaga ini. Aku tahu akan ada berita baik buat Josephin.

”Bagaimana, sukses dengan acara pernikahan?” tanyaku pada Josephin suatu hari.
”Syukurlah, semuanya lancar”, kulihat senyum mengembang pada wajahnya. Matanya masih menyisakan nanar yang belum sembuh benar.
”Kak, mau tidak jadi relawan di SPF?” tanyaku.
”SPF?” kening Josephin menyimpan tanya.
”SPF itu Solidaritas Perempuan Flores. Lembaga ini memperjuangakan hak-hak perempuan dan anak khususnya dalam kasus kekerasan terhadap perempuan. Letaknya langsung bersebelahan dengan rumah Kakak”, kataku.

Josephin terdiam.
“Bilang sama Kak Reynold. Sekali lagi dia memukul Kakak seperti tempo hari kami akan menghadapi dia”, kataku sambil tersenyum.

Kini Josephin tak pernah mengeluhkan lagi perbuatan kasar suaminya. Rupanya kehadiran SPF yang berada tepat disebelah rumahnya merupakan momok yang menakutkan buat Reynold. Namun sebaliknya bagi Josephin dan aku sendiri, SPF mengajarkan kami bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan suatu bentuk pengajaran bagi perempuan. Karena cinta tidak membutuhkan kekerasan sebagai pelajaran bukan?

Cerpen Finalis (10 Besar) CERMIN INDOSIAR 2008 oleh Fien Prasetyo 03.55

Fien Prasetyo
Dulu kupikir bapak sudah tidak mencintai ibu lagi. Selang dua tahun sejak ibu meninggal, bapak memutuskan untuk menikah lagi. Jelas, bagiku, kala itu bapak sudah mengkhianati mendiang ibu. Sudah seperempat abad lebih ibu menemani bapak dengan setia dan tanpa mengeluh, tiba-tiba kini dengan mudahnya bapak melupakan ibu dengan menikahi seorang perempuan bernama Rina.

Perempuan berjilbab itu masih tergolong muda, 40 tahun dan bapak 55 tahun. Meski janda tanpa anak, penampilannya masih seperti gadis saja. Pantas saja bapak seperti terlena dengan dia. Yang aku tak habis pikir, bagaimana mungkin perempuan itu mau dinikahi bapak yang sudah tua dan punya empat orang anak ?

Sempat terbersit bahwa perempuan itu hanya mengincar harta bapak. Maklum, di kampung kami bapak memang tergolong orang yang cukup mapan. Tapi segera kutepis pikiran itu dan selanjutnya aku hanya bisa diam menyaksikan ijab Kabul kedua bapak itu.

Hari itu, hari pertama kali ada “perempuan asing” dalam rumah kami. Kami berempat cuma bisa terdiam melihat bapak dan perempuan itu terlihat begitu suka cita. Amarah dan sakit hatiku semakin memuncak ketika malam mulai larut. Bagaimana tidak, perempuan itu tidur dalam satu kamar dan satu ranjang dengan bapak. Seharusnya ibu yang ada disisi bapak, bukan dia. Lagi-lagi aku hanya bisa diam dan sedikit terisak dalam kamar, hingga tertidur…

Pagi hari, pukul 05.00 kudengar di dapur telah bising oleh suara orang memasak. Dengan sedikit masih mengantuk kucoba melihat apa yang telah terjadi di dapur. Sebab sejak ibu tiada, tak pernah ada lagi acara memasak di pagi hari. Masing-masing disibukkan dengan dirinya sendiri sehingga urusan sarapan pagi kami beli sendiri-sendiri di warung.

Aku terkesiap, beberapa jenis masakan telah tersedia di meja makan. Dan perempuan itu dengan sumringah menyapaku. “Udah bangun Fin ?”

Aku tak menjawab, hanya berlalu.
“Sholat subuh dulu Fin…” sambungnya kemudian.
Lagi-lagi aku tak menyahut.

Begitulah hari-hari kami sejak ada perempuan itu. Memang sedikit teratur, tapi tetap saja kuanggap itu cuma bentuk usaha dia untuk memikat hati kami, anak-anak bapak, terutama aku. Paling-paling hanya satu bulan pertama saja seperti itu, selanjutnya…ah !

Satu…dua…tiga…empat…lima bulan berlalu. Perempuan itu tetap konsisten menjalankan roda rumah tangga dengan baik. Mulai dari menyiapkan makan, mencuci, menyetrika, bersih-bersih rumah hingga mencari uang dengan menjalankan usaha berdagang baju-baju muslim.

Memang, teman-temannya cukup banyak. Silih berganti datang ke rumah untuk melihat dan membeli baju-baju muslim yang diambilnya dari jawa tengah. Setiap hari, kalau tidak ada jadwal kuliah, aku sering mengintip dari balik jendela kamar yang memang berseberangan dengan ruang tamu. Perempuan itu begitu ramah dan telaten dalam melayani pembeli.

Senyum merekah tak henti-hentinya tersungging dari bibirnya. Dan kulihat orang-orang itu begitu senang dengan bu Rina, begitulah terakhir aku memanggilnya. Tidak tampak di wajahnya rasa letih dan lelah. Padahal aku tahu, sejak dari sebelum subuh, bu Rina sudah bangun, memasak, mencuci, menyapu, mengepel, hingga menyiapkan segala kebutuhan bapak dan kami sebelum berangkat beraktifitas.

Hingga pernah, pada suatu hari, saat dirumah sepi, hanya ada aku dan bu Rina, ia bertanya padaku. “Fin, kalo lulus kuliah mau kerja apa ?”
Aku menggeleng, malas menanggapinya.
“Pasti kerja kantoran ya ? Ibu lihat Fifin suka menulis di komputer.”
Aku masih diam.
“Atau mau gak bisnis kayak ibu ?” tanyanya kali ini dengan nada bercanda
“Nggak.” Jawabku cepat

Bu Rina tertawa kecil, “Iya, kalau bisa raih cita-cita yang lebih tinggi lagi ya…fifin kan udah kuliah, harusnya bisa jadi yang lebih dari sekadar berjualan baju kayak ibu. Ibu dulu kan nggak kuliah, cuma tamatan SMP, jadi ya mana mungkin kerja di kantoran. Bisanya ya jualan gini aja. Tapi alhamdulillah, hasilnya lumayan juga lo…”

Seketika hatiku menciyut. Sedikit ada rasa kagum pada bu Rina.
“Dulu, ibu juga ingin jadi orang pintar, kerja di kantoran. Tapi sayang kondisi keuangan keluarga pada waktu itu gak memungkinkan untuk ibu bisa sekolah tinggi. Tapi ibu dulu bertekad ingin mandiri meski berbekal pendidikan yang minim. Makanya, Fifin sekarang udah enak tuh, biaya sekolah ada, jadi jangan sampai semua itu terbuang sia-sia. Manfaatkan kesempatan yang ada dengan baik. Sebenarnya jadi apapun gak masalah, yang penting tidak bertentangan dengan agama dan dijalani dengan penuh tanggungjawab. Ibu doakan besok Fin jadi orang sukses ya.”

Sederhana saja apa yang dikatakannya, tapi entah kenapa, tiba-tiba batinku bergejolak. Seperti tengah mendorong-dorong semangatku untuk bangkit. Apalagi saat ia katakan akan mendoakan aku untuk sukses...memang, sejak ibu meninggal, seperti hilang gairah hidupku. Parahnya lagi, tidak ada yang memberiku semangat. Bapak sibuk bekerja, sementara saudara-saudara kandungku pun tak pernah ada waktu untuk berbagi.

Aku seperti menemukan tempat berlabuh, tempat bersandar. Seketika ingin rasanya aku menumpahkan segala isi hatiku yang selama ini terpasung dalam kesepian tanpa ibu. Kata-kata dan suara lembut bu Rina sanggup membiusku untuk terlena dalam dekapannya. Dan, kala itu aku memang jatuh dipelukannya dan menangis membasahi jilbabnya putihnya. Hari itu aku merasakan belaian yang begitu tulus. Meski tak dapat mengalahkan ibu, tapi aku cukup tenang bersamanya.

Bu Rina, ibu tiriku. Tak sanggup aku memanggilnya ibu seperti aku memanggil ibuku. Tapi aku dan juga ia tak pernah peduli. Kasih dan cinta tak hanya sebatas sebutan ibu. Sudah cukup bagiku petuah dan limpahan do’a yang bu Rina berikan padaku menjadi oase yang selama ini sempat hilang dari hidupku.

Kini, aku telah berumah tangga dan memiliki seorang puteri kecil berusia satu tahun. Dan kini aku menganggap bu Rina bukan saja sebagai ibu, tapi juga guruku dalam berkarya, temanku dalam suka, dan pelipur laraku dalam duka. Aku juga berdagang baju muslim dan bahkan memiliki langganan yang lebih besar dari bu Rina. Ah, bangganya aku. Tapi ternyata bu Rina lebih bangga padaku.

Bu Rina tak pernah lelah dan lalai menemani bapak, menapaki usia yang semakin senja. Kini aku lega, ibu di surga pasti juga bahagia, karena bu Rina menjadi pengganti peran ibu yang tulus. Satu hal yang sampai detik ini menjadi pembelajaran untukku dari bu Rina.

Bagaimana bu Rina begitu berbesar hati saat dulu aku tak pernah mempedulikannya, bagaimana bu Rina begitu tabah menjalani hari-hari bersama bapak yang sempat sakit-sakitan, bagaimana juga bu Rina begitu bertanggungjawab menjalankan setiap tugas dan kewajibannya dalam mengurus rumah tangga dan kerjaan. Dan satu lagi bagaimana bu Rina begitu tulus menyayangi bapak, aku, dan saudara-saudaraku.

Seorang bu Rina telah membuka mata hatiku, bagaimana aku harus bisa menjadi perempuan mandiri dan kuat dalam mengarungi hidup. Tak harus menjadi kejam, otoriter, angkuh, ataupun keras hati untuk bisa mandiri dan kuat. Tapi justru kelembutan, kesabaran, serta keikhlasan akan membawa kita menjadi perempuan yang tak terkalahkan.***

Cerpen Finalis (10 Besar) CERMIN INDOSIAR 2008 oleh Lingga Permesti 03.48

Lingga Permesti

“Jamuu…jamunya Mbak...!” teriakan Mbok jamu selalu kudengar tepat pukul sembilan pagi. Aku terperanjat kaget mendengarnya, suaranya yang lantang itu memecah konsentrasiku yang sedang menghapal bahan ujian untuk besok. Berisik sekali pikirku, mbok jamu itu seperti tidak punya tatakrama saja, berteriak keras-keras, seolah-olah tidak akan ada yang merasa terganggu. Pada mulanya aku tidak menanggapi kejadian yang terus berulang ini, tetapi lama kelamaan aku dibuat kesal olehnya. 

Aku lihat dari balik kaca jendela orang yang mengganggu belajarku itu, seorang wanita usia lima puluh tahunan, menggendong satu baku jamu dan membawa ember kecil di tangan kirinya. Kebaya lusuhnya itu berwarna biru tua dengan jahitan tambalan di sekitar lengan kebaya itu. 

Tak lupa pula kuperhatikan bakul besar yang ia bawa, mungkin beratnya sekitar lima kilo, atau mungkin lebih. Di dalamnya berisi macam-macam jamu, dari jamu penyegar badan hingga jamu kuat untuk para pria. Kulihat ia membenarkan letak selendang jamunya, selendang yang ia gunakan untuk membawa bakul itu. Badannya yang kecil hampir tertutupi oleh bakul jamunya yang besar dan berat.

Sempat terbersit rasa kasihan padanya, tetapi apa yang ia lakukan tidak dapat membayar semua ini, membayar kekeruhan otakku yang diganggu oleh suaranya yang seperti ingin memecahkan gendang telingaku. Akhirnya kusudahi saja belajarku dan pergi mandi, tetapi tetap saja hatiku mengumpat-ngumpat pada ibu tua itu, si penjual jamu.

Setelah beberapa hari ini, tidak kudengar lagi teriakan mbok jamu yang biasa dipanggil Mbok Nah itu. Entah apa yang terjadi padanya hingga tidak ada selama beberapa hari ini. Atau mungkin, ia telah insaf mengganggu orang-orang yang beraktivitas dan membutuhkan konsentrasi yang besar, seperti aku ini. Aku sengaja memilih kost yang agak jauh dari kampus supaya mendapatkan ketenangan dalam belajar, tetapi ternyata, keputusan yang kupilih ini tidak sesuai apa yang aku inginkan, terutama, suara Mbok Nah yang mengganggu. Ah, sungguh senangnya tidak ada teriakan tak bersahabat di telingaku akhir-akhir ini.
***
Kuliahku akhir-akhir ini berantakan, entah mengapa. Mungkin karena permasalahanku yang tidak kunjung selesai menarik kasih sayang kedua orang tuaku. Energi mereka sepertinya habis untuk bekerja, mencari uang yang banyak agar anak-anaknya bahagia. Tetapi aku tidak sebahagia yang mereka bayangkan. Okelah aku diberi fasilitas yang memadai, aku tidak kekurangan materi sama sekali, aku hidup enak, dan aku mampu membeli apa saja. 

Namun, seakan-akan mereka lupa ada seseorang yang rindu ditanya sudah makan atau belum, bagaimana kuliahnya hari ini, atau satu kalimat saja yang ingin aku dengarkan, ”Mama dan Papa kangen kamu, Nak..!”.

Tidak, semua tidak ada dalam hidupku. Mereka hanya bekerja dan bekerja. Aku seperti menjadi orang asing di keluargaku sendiri. Setiap aku pulang apabila ada libur kuliah, mereka tidak ada di rumah, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku sudah mencoba untuk mengerti tetapi tak kumengerti hingga saat ini. Aku coba memahami, tetapi jawabannya hanya bisu, aku seorang diri.

Lamunanku dibuyarkan oleh teriakan Mbok Nah. Ternyata ibu tua itu masih datang saja kesini, aku kira ia sudah tidak punya nyali datang ke sini setelah kucoba untuk menegurnya sebelum ia menghilang beberapa hari lalu. Sepertinya percuma saja aku menegurnya waktu lalu, ia mendengar teguran itu seperti angin lalu saja.

Aku memcoba menegurnya sekali lagi, ”Mbok, tolong teriakannya diperkecil, saya terganggu...! Mungkin tetangga lain juga terganggu!” ungkap saya padanya sambil kuperhatikan rambutnya yang lepek terkena sinar matahari, sungguh lelah pikirku. Sejenak aku bersimpati kepadanya, tetapi Mbok Nah seperti tak mendengar omonganku, ia menurunkan bakul jamunya kemudian mengambil satu gelas kecil. 

Ditumpahkan jamu campuran kunyit, asam dan jahe kemudian ia sodorkan padaku, ”Jamunya Mbak! Biar pintar!” pintanya padaku. Entah mengapa aku lupa telah menegurnya sehingga langsung saja aku ambil jamu itu dan kuteguk cepat-cepat. Tubuhku serasa segar dan semangat seolah-olah aku menjadi orang yang baru.

Aku hanya berdiam diri memperhatikannya, kulihat mata Mbok Nah seperti menusukku. Matanya seperti sudah mengalami perjalanan hidup yang panjang, tetapi mata itu senantiasa memberi kasih sayang orang-orang di sekitarnya. Pantas saja warga di sini tidak banyak terganggu oleh kehadirannya. Marahku sepertinya sudah terlunturkan oleh senyumnya yang mengembang manis di depanku. Aku mungkin terlalu naif untuk menilai orang dari luarnya saja karena entah mengapa kutemukan kehangatan dalam dirinya, kehangatan yang tidak kutemui dari orang tuaku.

Aku memberinya selembar lima ribuan kemudian ia keluarkan dompet kecilnya dan mengembalikan tiga ribuan, murah pikirku. Murah untuk lelahnya ia berjalan dari satu desa ke desa lain, sangat murah untuk keringatnya yang bercucuran dari pukul setengah enam pagi, murah untuk senyumnya yang ia berikan untukku. Begitupula warga di sekitar lingkungan kost ini yang merasakan ketulusan senyumnya. Senyum Mbok Nah seperti menampar hatiku yang dingin dan benar kata orang, senyum dapat merubah sikap seseorang dan itulah aku.

Setiap hari kini aku menunggunya, menunggu Mbok Nah yang bersuara lantang itu. Walau suaranya lantang, lain hal dengan sikapnya. Sikapnya sangat lemah lembut dan aku merasakan sikapnya itu sampai ke hatiku. Aku seperti terkena candu jamu pintar yang ia buat. Tak tahu mengapa disebut jamu pintar, ada-ada saja Mbok Nah.

Aku kini sering menunggunya dan ingin mengobrol banyak dengannya. Aku patut mengangkat topi akan semangatnya, dan tahukah, alasan selama beberapa hari lalu ia tidak berjualan jamunya karena ia menghadiri wisuda anaknya yang paling bungsu. Aku tersentak mendengarnya, bagaimana bisa seorang penjual jamu dapat menyekolahkan keempat anaknya yang kini sudah sarjana semua. Aku merasa di tengah himpitan ekonomi seperti ini Mbok Nah bisa bertahan saja sudah luar biasa apalagi dapat menyekolahkan anak-anaknya. 

“Yang penting ikhlas to Mbak, kalo gak ikhlas ya gak jalan, yang di atas juga gak redo” ungkapnya padaku dengan logat jawanya yang kental. Sampai saat ini pun ia masih berjualan jamu kendati anak-anaknya telah lulus dan bekerja. Aku tanyakan padanya untuk apa ia melakukan semua itu ia pun berkata sambil tertawa renyah padaku, ”La wong kalo si mbok liat orang minum jamu mbok ngerasa bahagia, gak tau kenapa ya Mbak” sambil dimasukannya botol-botol jamu itu ke dalam bakul dan mencuci gelas yang kupakai untuk minum jamu tadi.

Terbersit dalam pikirku, mungkin itulah yang dilakukan kedua orang tuaku, membuat anaknya bahagia walau mereka jarang memperhatikan aku. Aku seperti menyia-nyiakan energiku untuk memperoleh kasih sayang mereka. Seharusnya akulah yang memberi kasih sayang terhadap ayah dan ibu. Aku tersadar karena melihat perjuangan Mbok Nah, berkeliling desa hingga kulitnya seperti melepuh terbakar sinar matahari. Aku pun menyadari seberkas rumus pintar yang ia berikan secara tak langsung padaku.

Rumus pintar agar melakukan semua kegiatanku dengan ikhlas tanpa mengharapkan sesuatu dari orang lain. Aku pun tak tahu bentuk ikhlas itu sendiri seperti apa, yang aku tahu aku belajar banyak dari Mbok Nah agar bisa bahagia dengan membahagiakan orang lain dan aku tahu rumus ini akan mengiringi dalam setiap perjalanan hidupku.
***
Perkuliahanku kini sudah semester delapan, semakin dekat kulihat kelulusan di depan mataku. Aku berhasil melewati semua karena rumus pintar yang diberikan Mbok Nah padaku. Tetapi aku agak sedih karena sudah tidak pernah melihatnya lagi berkeliling dari satu kost ke kost lain untuk menjual jamu pintarnya. Katanya ia sudah pensiun dari pekerjaan itu. Mungkin keempat anaknya meminta ia untuk berhenti menjual jamu.

Walaupun aku sempat merindukannya, aku merasa bahagia karena Mbok Nah bahagia. Terima kasih untuk jamu dan rumus pintarnya Mbok Nah...! Akhirnya kuselesaikan cerita ini dengan mengambil nafas panjang dan berkata, ”Aku ingin bahagia dan orang di sekitarku bahagia...” sekali lagi terima kasih Mbok Nah, terima kasih..